7.11.2011

Ini Bentuk Tubuhku, Kalau Kamu?



Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan bentuk tubuh. Anda tinggal memilih, ingin tetap hidup menjadi orang dengan bentuk tubuh yang kurus kering bagai tulang yang hanya dilapisi kulit, langsing lurus 'bak model yang berjalan di atas catwalk, kekar berotot bagai binaragawan yang kuat, atau mungkin yang paling dibenci adalah bentuk tubuh yang berisi atau bahkan terlalu berisi dengan lemak (bahasa terkenalnya adalah 'ehem' gendut). 

Hidup juga perlu suatu perubahan, begitu juga dengan bentuk tubuh. Anda harus yakin dengan diri Anda sendiri apakah ingin tetap setia dengan bentuk tubuh Anda yang sekarang (bagaimanapun bentuknya) atau ingin melakukan suatu perubahan besar dalam bentuk tubuh Anda (perubahan yang bisa membuat 'penampakan' bentuk tubuh Anda lebih baik atau bisa dikatakan ideal di mata orang).

Sebelumnya, di awal postingan  ini gue hendak menjelaskan sesuatu. Postingan ini dibuat bukan bertujuan untuk memotivasi kalian yang merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuh kalian yang sekarang, tapi ini murni 'curhatan' atau bahasa kerennya adalah isi hati seorang remaja yang sedang mengalami pertumbuhan dan tiba-tiba merasa gundah dengan kondisi bentuk tubuhnya sekarang T_T. Gue harap kalian yang membacanya dapat menghayati postingan ini dan merasakan sensasinya atau lebih tepatnya merasakan bagaimana menjadi diri gue. Sebelumnya, mohon sediakan kertas tisu, sapu tangan, atau benda-benda semacamnya terlebih dahulu. Untuk apa? Takutnya kalian akan ikut merasa sedih dengan cerita ini dan meneteskan butiran-butiran air mata kalian. 

Oke, mari kita kembali ke topik awal. Dua paragraf di awal postingan ini cukup membuat gue merasa gundah dan tidak bisa menikmati segarnya udara pagi hari ini. Entah kenapa pemikiran tersebut muncul dan sempat hinggap begitu lama di otak gue. Akibatnya pagi ini gue kembali diingatkan untuk melakukan suatu perubahan yang sudah lama direncanakan, tetapi belum bisa juga dilaksanakan. Apa itu? Tentu saja merubah bentuk tubuh yang sekarang :'(

Bukan maksud hati tidak mensyukuri kondisi bentuk tubuh yang sekarang, tapi ini murni datang dari kesadaran diri gue sendiri bahwa bentuk tubuh tersebut kurang baik untuk gue kedepannya. Terlebih lagi, Ibundaku tercinta yang melahirkanku dengan penuh perjuangan jiwa raga berkata pada malam kemarin, "Enakan langsing, daripada gendut. Susah buat diubahnya." Ya. Tentu saja itu cukup membuat dahi gue mengkerut, walaupun gue tak pernah tahu apakah itu ditujukan pada diri gue atau bukan #yahGalau. Memang benar, kalau orang gendut itu lebih banyak susahnya daripada orang yang agak kurus. Kalau orang kurus mau jadi orang gendut, dia tidak perlu bersusah payah dengan mengucurkan air keringat. Dia hanya perlu duduk manis di depan televisi sambil memakan cemilan yang cukup banyak. Dijamin, apabila kegiatan itu dilakukan selama seminggu penuh pasti dia akan sedikit lebih berisi. Nah, bagaimana dengan orang gendut? Ya, kalau mau kurus butuh perjuangan ekstra. Rasanya lari dikejar macan setiap pagi merupakan cara yang cukup mumpuni untuk merubah semua mimpi buruk tersebut.

Oya, penasaran dengan bentuk tubuh gue? Begini, gue tidak 'mungkin' bisa dikatakan kurus. Berisi? Iya, tapi tidak begitu gendut-gendut sekali. (Percaya ya, kalau tidak itu sama halnya dengan membuat diri gue semakin sedih.) Kalau kata orang sih bentuk tubuh gue ini tinggal diolah. Artinya cukup dengan rajin berolahraga badan gue bisa berbentuk (red: berotot wkwk).

Dari zaman gue belum sekolah sampai sekitar kelas 4 SD, bentuk tubuh gue ini kurus, tapi entah kenapa semenjak naik kelas 5 SD lemak telah membutakan gue. Makanan yang mengandung gula menenggelamkan diri gue pada bentuk tubuh yang sekarang. Hobi makan gue bertambah, kecintaan untuk melakukan olahraga berkurang. Berbagai aktivitas yang sesungguhnya bisa membakar lemak sudah semakin jarang dilakukan. Itu didukung dengan sifat malas gue yang semakin membuat mata batin gue gelap #lebay. Sekarang lebih sering diam diri di rumah atau kamar. Mau kemana-mana bingung. Ketika di rumah juga bingung mau melakukan hal apa dan pastinya berkakhir pada UUM (ujung-ujungnya makan). Sedih, tapi memang iya fakta.

Banyak berita di media cetak dan elektronik tentang berbagai penyakit akibat makanan. Takut, takut jika gue nanti mengalami hal tersebut. FYI gue ini orangnya sulit mengontrol porsi makanan. Kadang belum merasakan nikmatnya makan kalau porsinya bukan porsi kuli yang banyaknya luar biasa. Jika dibandingkan, kuli masih jauh lebih baik daripada gue. Kalau kuli makan banyak untuk menopang aktivitasnya banting tulang, nah, gue? Makan banyak langsung tidur ckck Apalagi pas malam, kadang suka aneh. Kok, porsi makan gue banyak sekali. Padahal, dianjurkan oleh banyak orang kalau malam itu baiknya tidak perlu makan sama sekali. Sedih, tapi memang iya fakta.

Hidup perlu suatu perubahan, begitu juga dengan bentuk tubuh. Berangakat dari berbagai alasan tersebut gue mencoba melakukan perubahan. Dari semenjak SMP hingga sekarang, program perbaikan bentuk tubuh tersebut sudah sering dicanangkan dan bahkan sudah di Acc oleh Bapak Menteri Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (lho?). Tapi, perubahan selalu diiringi dengan hambatan. Niat baik untuk merubah bentuk tubuh selalu dihalangi oleh berbagai rintangan, hambatan, dan utamanya adalah rasa malas.Terkadang pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang serba instan juga turut mempengaruhi perjuangan gue dan selalu saja datang sebuah pemikiran, "Buat apa susah-susah kurus, kalau ada cara yang instan." Hal tersebut seakan membuat gue semakin malas untuk berolahraga.

Contoh yang terbaru terjadi pada pagi hari kemarin. Dengan niat yang tulus, saya melakukan push up sebanyak 20 kali. Ingat! Hanya 20 kali. Tapi, kalian tahu efeknya? Push up tersebut berhasil membuat tangan gue lemas. Tangan gue bergetar, bahkan hanya sekedar mengangkatkan tangan ke atas saja begitu sulit. Hingga pagi ini, efek tersebut masih terasa. Tangan masih terasa pegal dan lemas untuk digerakan. Sedih, tapi memang iya fakta. Hal tersebut sempat membuat gue ragu dalam melakukan perjuangan ini.

Pada akhirnya, gue tetap mencoba untuk optimis. Gue harus semangat melakukan perubahan tersebut #berkobar Saya terus berharap (tak hanya berharap, tapi usaha juga) semoga bentuk tubuh ini berubah dan sesuai dengan apa yang gue harapkan. Amin (bilang amin ya ^^). Oke, sekian postingan ini. Gue buat dengan penuh kesungguhan dan sesuai dengan keinginan kata hati. Semoga bermanfaat dan dapat menghibur :D Bye, mau olahramlan dulu . . ups . . maksudnya olahraga hehe ^^

"Untuk melakukan suatu perubahan dalam hidup, maka dibutuhkan perjuangan dan begitu pula dengan bentuk tubuh."



1 comment:

  1. Hahah, aku juga sering merasa begitu, tapi bukan tentang berat badan, melainkan tinggi badan. Huhuh

    ReplyDelete