12.07.2011
Hidup Menjadi Suram
"Gila . . Suram sekali ini Matematikanya. Suram sekali . ." ujar salah satu siswa kelas sepuluh yang satu ruang ujian dengan gue. Gue agak ngga ngerti apa maksud anak itu melontarkan pernyataan tersebut. Apakah dia memang merasa tidak cukup puas dengan ujian Matematikanya atau sebenarnya dia sedang mengaplikasikan ilmu gaya bahasa - majas hiperbola yang dia pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia. Maksudnya? Ya, menurut gue agak terlalu berlebihan kalau akibat ujian Matematika yang begitu sulit dia menggunakan kata 'suram' untuk mengungkapkan kekecewaannya tersebut. Kata 'suram' menurut gue adalah kata yang cukup sensitif. Jangan sekali-kali kita salah dalam menggunakan kata tersebut. Gue jadi inget dengan 'quote' yang gue buat setelah mendengar keluhan anak tersebut yang bunyinya, "Gagal dalam ujian Matematika itu tidak berarti membuat hidup kita suram, tapi gagal menghasilkan keturunan alias mandul lebih layak untuk dianggap sebagai hal yang membuat sisa hidup kita menjadi suram."
Singkatnya, menurut gue, kita tidak perlu merasa kecewa terlalu dalam kalau nanti hasil ujian Matematika atau ujian-ujian yang lainnya mendapat nilai yang cukup kecil. Setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman agar ujian berikutnya kita bisa menghasilkan nilai yang memuaskan. Coba lo bayangin kalau lo udah digariskan 'mandul'. Apa mungkin lo bisa memperbaiki kesalahan masa lalu? Sulit. Mungkin yang ada hanya penyesalan dan sisa hidup lo akan menjadi suram tanpa canda tawa seorang anak. (Kenapa jadi bahas mandul yah?) --" *garuk kaki*
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
check this out!! http://astian-goldenblog.blogspot.com/2012/01/award-part-eight.html
ReplyDelete